Customer Reviews
See what our customers have to say about their experience with us.
8 reviews
Teofilus Nathanael
Lokasi peziarahan yang sangat teduh, khidmat & rindang. Umat yang ingin berziarah sangat disarankan mengambil jalur peziarahan Jalan Salib (ke arah kanan dari pintu masuk) untuk dapat menapaki ziarah sengsara Kristus dengan lebih khidmat di area kompleks Gua Maria Kaliori. Namun, bagi peziarah yang tidak mengkehendaki perjalanan panjang disarankan mengambil jalur kiri untuk menuju langsung ke Gua Maria, sebab tapak tilas Sengsara Kristus pada jalur Jalan Salib cukup menanjak dan panjang.
Dandy Sondakh
Tempat jalan salib rekomendasi. Rute ga terlalu berat walau ada tangganya. Licin waktu hujan. Lilin lebih baik bawa karena toko sovenir letaknya setelah jalan salib. Ada kapel adorasi juga. Mobil masuk dengan aman n nyaman, bis juga bisa. Mantappp
Ilham Hansyah Saputra
jujur amaze bgt si sm paroki dsini, dengan tempat yang seluas itu tapi soal kebersihan perlu di apresiasi si, good job gua maria kaliori cmn buat tmn" yng pgn explore lewat jalur (yng lebih jauh) harus pake soffel si banyak nyamuk soalnya (ya kek hutan si wajar aja). buat non katolik kalo mau kunjungan kesini juga gpp yaa boleh aja,waktu itu aku juga barengan sama anak muslim cewe" berhijab, gaakan ada yang ngejudge ramah ramah semua kok asal tdk mengganggu pra ibadah,semua karyawan disini baik dan sopan semua mulai dari bpk ynh jaga loket, tukang parkir,penjual dan petugas kebersihan mereka baik semua kok
Alexander Giselle Adipradana
Tempat Ziarah yg sangat tenang di Purwokerto Bangunan yang sangat indah dan hening utk doa
Monica Bintang
Tempat yang bagus, sejuk, dan khusyuk untuk ziarah, doa, dan jalan salib. Akses jalan untuk jalan salib menanjak dan sedikit licin, jadi harus berhati-hati saat jalan. Menurut saya Gua Maria ini tempatnya sangat lengkap ya dibanding gua Maria lain. Di sini tempatnya lengkap, ada tempat jalan salib, Gua Maria, patung Pieta, Taman Doa Rosario, Ruang Adorasi, dan tempat untuk beli oleh2. Fasilitas juga bagus, bersih, dan memadai. Semoga Gua Maria Kaliori tetap terjaga dengan baik, semakin dikenal umat Katolik yg lain, dan jadi berkat. Terima kasih Bunda Maria & Tuhan Yesus, bersyukur bisa berziarah di tempat ini 😇🙏🏻
emms (emms)
Jalan salib versi panjangnya ternyata cukup panjang dan menguras tenaga karena lumayan nanjak. Hehe. Disini ada ruang adorasi, gua Maria, dan patung Pieta. Tempatnya sejuk seperti Gua Maria kebanyakan. Diadakan misa mingguan jam 09:00 WIB.
fredy hendarto wijaya
Tempat yang sejuk dan hening untuk beribadah dan berdoa walaupun kita harus jalan naik untuk sampai di gua Maria tapi worthed lah untuk tempat sebagus ini. Capai kira terbalas dengan suasana yang memukau dan hening
Reza Aryanto
26 Mei 2025 Untuk pertama kalinya aku mengayuh sepeda dari Purbalingga ke Gua Maria Kaliori. Aku cuma ingin tahu, hanya ingin merasakan. Tapi ternyata, tempat ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa penasaran. Aku berjalan di Jalan Salib. Aku melihat kaca patri di ruang adorasi — saat itu aku mengira itu Bunda Maria. Ada rasa damai yang pelan-pelan meresap masuk. Aku merekamnya dengan HP jadul kesayanganku, Nokia E63. 2 Juni 2025 Aku datang lagi. Masih menyusuri jalan yang sama, tapi kali ini aku baru sadar: kaca patri itu ternyata menggambarkan Yesus. Aku masuk ruang adorasi. Berdoa di depan Sakramen, membaca buku doa yang kutemukan di dekat pintu. Aku ganti nama-nama di doa itu dengan caraku sendiri. Aku tetap Muslim. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa doa bukan soal agama, tapi soal rindu akan sesuatu yang lebih besar dari diriku. Kemudian, 16 Juni Aku jatuh sakit. Tiba-tiba. Berat. Diduga tipes. Tapi yang lebih berat justru mimpi-mimpiku. Di malam pertama, aku bermimpi lima Romo Katolik berdiri mengelilingi tempat tidurku. Mereka tak berkata apa-apa. Hanya berdiri. Seperti... menjaga. Seperti mendoakan. Aku terbangun tengah malam dalam rasa sakit yang tak tertahan. Tapi yang paling menyiksa adalah: setiap kali aku menutup mata, bayangan kelima Romo itu kembali — diam, tapi tak bisa kuhindari. Malam kedua, mimpi itu datang lagi. Kali ini, satu dari mereka berbicara: "Nggak ada yang enak ketika tubuh Yesus menyatu denganmu. Kamu akan merasakan sakit yang luar biasa." Aku terbangun dengan tubuh menggigil dan hati yang takut — tapi sekaligus... terharu. Kata-kata itu terngiang terus. Aku tidak tahu artinya. Tapi aku tahu ini bukan kebetulan. Hari ketiga, aku pindah kamar. Kepala tempat tidurku sebelumnya menghadap utara — seperti arah orang wafat. Aku ubah arahnya. Bapakku shalat malam, dan katanya... ia membuang penyakit itu dari tubuhku. Malam itu aku akhirnya bisa tidur nyenyak — untuk pertama kalinya sejak sakit. Aku sembuh. Tapi bukan sembuh yang biasa. Aku merasa telah dilalui oleh sesuatu. Dipandang. Dipeluk. Mungkin juga dipanggil. Entah oleh siapa. Entah untuk apa. Tapi aku tahu titik mulanya: Gua Maria Kaliori. Tempat ini bukan sekadar lokasi ziarah. Ia seperti panggilan rahasia dari langit yang hanya terdengar jika kamu cukup tenang untuk mendengarnya. Terima kasih, Gua Maria Kaliori. Kamu menyentuh tubuhku lewat sakit. Tapi kamu mengetuk jiwaku dengan cinta. #Reza Aku datang dengan tubuh sehat dan hati penasaran. Aku pulang dengan tubuh yang akhirnya jatuh sakit... tapi jiwaku disentuh oleh sesuatu yang lebih tinggi.
Write Review in the App
To write a review, please use the CilacapConnect app. Download for free!